Pentingnya Rumah Aman Gempa di Indonesia

Sejatinya, rumah adalah tempat perlindungan. Namun hal itu tidak berlaku ketika terjadi gempa. Rumah justru menjelma menjadi senjata pembunuh yang mematikan saat terjadi gempa. Hampir di setiap kejadian gempa, di wilayah manapun, penyebab jatuhnya banyak korban (tewas maupun yang luka), pada umumnya karena tertimpa reruntuhan bangunan.

Sekedar mengingatkan. Gempa (7.6 s k) yang terjadi di sumatra barat, pada awal oktober 2009, menewaskan kurang lebih 1115 orang. Dengan jumlah kerusakan bangunan sekitar 150.000 unit. Sedangkan gempa yg terjadi di Jateng dan Yogyakarta (27/05/2006), menewaskan kurang lebih 6224 jiwa orang, dengan jumlah bangunan yg rusak sekitar 3825.

Sementara, gempa yang terjadi di Aceh akhir tahun 2004 (26/12/2004), merupakan gempa dengan jumlah korban jiwa dan kerusakan terbesar, karena disertai dengan tsunami. Tidak ada jumlah pasti tentang jumlah korban maupun jumlah bangunan yang rusak, namun diperkirakan ada sekitar 170 ribu jiwa yg melayang.

Gempa Sumatra Barat - 2006
Gedung yang ambruk akibat gempa di sumatra barat

Kenapa begitu banyak korban jiwa yg jatuh dalam setiap peristiwa gempa yang terjadi di Indonesia?

Karena pada umumnya bagunan-bangunan di Indonesia, dibangun tanpa memperhatikan konsep rumah tahan gempa. Jadi, ketika terjadi gempa, bangunan langsung runtuh (ambruk), sehingga tidak ada waktu bagi orang yang ada di dalamnya untuk keluar menyelamatkan diri.

Penyebab lainnya adalah, walaupun bangunan tersebut sudah sudah dibangun berdasarkan konsep bangunan tahan gempa, namun strukturnya tidak cukup kuat menahan getaran gempa. Kenapa? Karena bangunan tersebut, dibangun tidak sesuai BESTEK (peraturan dan Syarat-syarat pelaksanaan teknis pekerjaan).

Orang-orang yang berhubungan langsung dengan pembangunan gedung tersebut mencari keuntungan besar, dengan bermain di bahan dan ukuran. Contohnya, campuran beton struktur dalam bestek mensyaratkan 1 PC : 2 Psr : 3 Kr, namun pada pelaksanaannya dirubah menjadi 1 PC : 3 Psr : 5 Kr. Kemudian besi tulangan yang seharusnya berdiameter 16 mm, kenyataan dilapangan hanya menggunakan 12 mm atau 8 mm.

Sejak terjadinya rentetan gempa dahsyat di tanah air, yang dimulai dari Aceh,  Jogjakarta dan Sumatra Barat. Kita baru sadar, bahwa ternyata ancaman gempa benar-benar nyata di negeri tercinta ini. Kedatangan serta kekuatannya yang tidak bisa diprediksi, membuat gempa menjadi salah satu bencana alam yang sangat mematikan. Apalagi kalau disertai dengan tsunami, seperti yang terjadi di Aceh.

Mengapa di Indonesia sering terjadi gempa?

Karena Indonesia terletak di jalur patahan lempengan bumi yang terus bergerak dan bergesekan untuk mencari keseimbangan. Dari hasil gesekan itulah yang menyebabkan terjadinya guncangan/geteran, yang biasa kita sebut gempa (gempa tektonik). Selain itu, Indonesia juga memiliki 129 gunung api aktif, yang aktivitasnya sering menimbulkan gempa (gempa vulkanik).

patahan-lempengan-bumi-indonesia
Patahan lempengan bumi dan gunung api aktif di Indoensia

Melihat peristiwa gempa yang sering terjadi, serta kenyataan bahwa Indonesia terletak di jalur lintasan patahan lempengan bumi, maka potensi terjadinya gempa di sebagian besar wilayah Indonesia, sangat tinggi. Oleh karena itu, konsep rumah atau bangunan tahan gempa, sudah semestinya menjadi bagian terpenting untuk diperhatikan dalam setiap pembangunan gedung. Bahkan kalau perlu, dibuatkan undang2 khususnya.

Jepang adalah contoh negara di dunia yang paling siap dalam menghadapi bencana alam, termasuk gempa bumi. Jepang juga merupakan negara yang memiliki sistem peringatan dini terbaik di dunia. Sama seperti Indonesia, wilayah jepang juga merupakan jalur lintasan patahan lempengan bumi, sehingga wilayahnya juga sering diguncang gempa. Tahun 1923, jepang mengalami gempa cukup dahsyat, yang menewaskan sekitar 140.000 orang.

Sadar wilahnya rawan gempa, seluruh bangunan di jepang termasuk bangunan infrastruktur seperti jalan dan jempatan, semuanya menggunakan konsep bangunan tahan gempa. Jepang juga rutin mengadakan simulasi bencana tiap 1 september.

Dengan potensi bencana alam yang boleh dikatakan sama, sudah sepantasnya lah, Indonesia banyak belajar pada Jepang. Khususnya dalam hal pencegahan dan penanggulangan bencana alam.

Anggota DPR kita kalau benar-benar serius mau bekerja untuk rakyat, maka sebaiknya study bandinglah ke jepang, melihat bagaimana cara jepang melindungi rakyatnya dari bencana alam. Bukan malah menghamburkan uang rakyat dengan tamasia ke luar negeri dengan alasan study banding.

Kembali ke masalah rumah aman gempa! Berdasarkan sumber dari artikel-artikel kontruksi yang pernah saya baca. Prinsip-prinsip utama konstuksi bangunan tahan gempa adalah :
  1. Denah yang sederhana dan simetris
    Rumah dengan denah dan elemen-elemen struktur penahan gaya horizontal yang simetris, dapat menahan gaya gempa lebih baik karena kurangnya efek torsi dan kekuatannya yang lebih merata.
  2. Bahan bangunan harus seringan mungkin
    Besarnya gaya gempa yang diterima suatu bangunan, tergantung dari besarnya percepatan gempa dan berat total dari bangunan itu sendiri. Oleh karena itu, dalam Perencanaan Bangunan Tahan Gempa dikenal istilah bahwa semakin ringan bobot bangunan, maka gaya gempa yang diterima bangunan akan jauh berkurang.
  3. Sistem konstruksi penahan beban yang memadai
    Agar suatu bangunan bisa dibilang tahan gempa, maka setiap elemen struktur mulai dari atap, ring balok, dinding (kolom), sloof, sampai pondasi, harus mampu bekerja menyalurkan gaya inersia gempa sampai ke tanah. Kekenyalan struktur sangat ditekankan untuk mencegah keruntuhan bangunan.

Intinya adalah, bagaimana merancang dan membuat suatu bangunan yang mampu menahan atau mereduksi geteran gempa, untuk menghindari korban jiwa dan materi yang besar. Kalaupun misalnya terjadi gempa dahsyat, setidaknya bangunan tersebut tidak langsung ambruk, sehingga ada waktu orang2 yang ada di dalamnya untuk keluar menyelamatkan diri, sampai bangunan tersebut benar-benar ambruk.

Rumah DOME

Rumah DOME adalah salah satu contoh rumah anti gempa yang dibangun pasca gempa di Jogjakarta. Proyek rumah anti gempa ini merupakan hasil kerjasama World Association Of Non-Governmental Organizations (WANGO), The Domes For The World Foundation (DFTW) dan pemerintah Indonsia. Dibangun di dusun Ngelepen, Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Rumah Dome - Rumah Anti Gempa
Rumah Dome – Rumah tahan gempa di Jogjakarta

Bentuknya yang tidak lazim dengan bentuk-bentuk rumah pada umumnya di Indonesia, membuat rumah ini menjadi unik. Mirip rumah orang eskimo di kutub utara. Atau kalau Anda pernah nonton film anak-anak, teletabis, nah.. bentuk rumah ini mirip dengan rumahnya teletabis.

Rumah Dome ini terbuat dari beton dan tidak menggunakan pondasi. Jadi, ketika terjadi gempa, bangunan hanya akan mengikuti gerakan gempa, sehingga tidak akan mengalami “patah” akibat adanya pondasi. Dasar bangunan merupakan lantai beton dengan tebal 30-40 CM.

Rumah-Dome Skema kemungkinan yg terjadi jika patahan bergerak vertical

Menurut literatur yang saya baca, Rumah berbentuk kubah seperti ini memang lebih tahan guncangan dan tekanan kuat, karena struktur bangunan horizontal dan vertikal nya menyatu secara utuh. Setiap bagian dinding bangunan saling menyangga saat terjadi tekanan gempa.




KOMENTAR