Penipuan Melalui Telepon Berkedok Polisi dan Dokter

Penipuan yang memanfaatkan media2 elektronok seperti handphone dan komputer (internet) makin marak saja terjadi. Dulu saya pernah cerita tentang penipuan yang menimpa saya melalui SMS. Saya juga pernah cerita tentang penipuan yg menimpa salah satu anggota group lawak “BAJAI” melalui internet. Nah, baru-baru ini penipuan melalui telepon kembali menimpa teman kos saya.

Ceritanya begini: Beberapa hari yang lalu, teman kos saya, tepatnya orang tua teman saya itu, sekitar pukul 13.00 menerima telpon dari seseorang yang mengaku polisi. Orang yang mengaku polisi ini mengabarkan kalau Jenot (nama teman saya) mengalami kecelakaan, dan sekarang ada di Rumah Sakit Cakra Keraton.

Penipuan melalui telepon
Penipuan Lewat Telepon
Tidak menunggu lama kemudian, telpon kedua datang, kali ini si penelpon mengaku Dokter dari Rumah Sakit Cakra Keraton. Orang yang mengaku dokter ini mengabarkan kalau jenot sekarang ada di dalam ruang ICU dengan kondisi sekarat dgn luka parah pada kepala, dan harus segera dioperasi, sebab kalau tidak akan berakibat fatal. Kemudian, si dokter palsu ini meminta persetujuan dan uang sebesar 11 juta rupiah. Uang tersebut harus segera ditransfer agar operasi cepat dilakukan.

Yang jadi masalah adalah, teman saya ini sejak pagi sudah keluar rumah/kost untuk kuliah dgn kondisi handphone-nya tidak aktif gara2 lowbat (katanya). Jadi tidak bisa dihungin sama sekali. Sepertinya si penipu sudah tahu kalau handphone teman sy ini tidak aktif. Jadi dia bisa melancarkan aksi tipunya.

Untungnya Orang Tua (Bapak) teman saya ini tidak langsung percaya dengan si penipu. Namun karena Jenot tidak bisa dihubungi, jadi orang tuanya pun sedikit banyak juga khawatir. Mereka pun kemudian menelpon beberapa teman Jenot yang mereka kenal di Jogja, termasuk saya.

Kami pun kemudian sibuk mencari2 Jenot. Pertama2 saya mencoba mencari nama rumah sakit Yang disebutkan si penipu itu (RS. Cakara Keraton) lewat internet, namun tidak ketemu. Kemudian saya meminta nomor si penipu ke orang tua Jenot. Setelah dihubungi ternyata no tersebut sudah tidak aktif lagi. Saya pun makin yakin kalau ini hanya lah penipu yang ingin memanfaatkan kepanikan orang tua atau keluarga calon korbannya.

Supaya orang tua teman saya ini tidak khawatir lagi dgn anaknya. Saya pun mencoba mencari Jenot ke kampusnya. Saya mendatangi tempat biasa dia nongkrong bareng, tapi tidak ketemu. Akhirnya saya berpikir “Ah, paling dia sedang mengikuti perkuliahan di kelas”. Saya pun memutuskan untuk balik saja ke kos.Sesampai di kos, baru di depan pintu, tiba2 suara motor mio Jenot kedengaran sedang masuk ke halaman kos kami. Benar saja, itu memang dia (Jenot). Langsung saja saya suruh dia untuk segera menghubungi orang tuanya agar tidak khawatir lagi.

Pesan dari pengalaman tersebut adalah, jangan cepat panik kalau mendapatkan kabar dari orang yang belum dikenal mengabarkan berita buruk tentang salah anggota keluarga kita. Karena jenis penipuan seperti ini memanfatkan kepanikan calon korbannya.

Waspadai juga berbagai penipuan bisnis dan investasi di dunia online maupun offline yang kini makin marak.

Waspadalah, waspadalah!



KOMENTAR