Aku Ingin Jogja Jadi Kota Ramah Lingkungan

Tidak terasa, sudah lebih dari 10 tahun saya tinggal di Jogja. Banyak hal yang membuat saya enggan meninggalkan kota gudeg ini, walaupun sudah tidak berstatus mahasiswa, lagi. Pesona kota Jogjakarta cukup kuat menahan saya untuk pulang kampung atau pindah ke kota lain. Di sini saya menemukan kenyamanan, keamanan dan kemudahan dalam merintis karir dibidang pekerjaan yang sedang saya tekuni.

Angkringan Jogjakarta
Baju hitam itu saya. Habis makan nasi kucing di angkringan

Jogjakarta memang bukan kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan, atau Makassar. Tapi justru karena kecil-nya itulah salah faktor yang membuat saya senang tinggal di kota Yogyakarta. Mau kemana-mana jadi lebih dekat. Naik sepeda ontel juga bisa. Selain itu udara di Jogja cukup sejuk karena dekat dengan pegunungan. Ditambah lagi biaya hidup di Jogjakarta relatif lebih murah jika dibanding dengan kota-kota lain di Indonesia. Dan yang sudah menjadi rahasia umum, apalagi kalau bukan keramah-tamahan dan kelembutan orang-orang asli Jogja.

Menurut saya, kota Jogjakarta adalah miniatur-nya Indonesia. Tinggal di kota Jogja, saya bisa mengenal dan bergaul dengan orang-orang dari berbagai macam etnis dan agama yang ada di Indonesia. Di sini saya benar-benar merasakan betapa INDAH-nya perbedaaan itu bila kita hidup rukun, saling menghargai dan menghormati. Dan itu lah yang terjadi dan saya rasakan di kota pelajar, Yogyakarta. Kalaupun ada berita-berita seputar kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir di Jogja, pelakunya itu hanya lah segelintir oknum-oknum yang sedang kesasar di Jogja.

Aku Ingin Jogja Jadi Rumah Bersama
Mural di salah satu sudut kota Jogja (Sumber: us.log.viva.co.id)

Jogjakarta tidak hanya istimewa karena Gubernur dan Wakil Gubernur-nya secara turun-temurun diduduki oleh Raja Keraton Jogjakarta dan Paku Alam (VIVAnews: Mengapa Yogyakarta Disebut Istimewa) . Jogjakarta juga istimewa karena merupakan kota pelajar, budaya, sejarah, dan wisata. Makanya wajar sekali bila Jogjakarta menjadi kota impian bagi para pelajar dan wisatawan (domestik dan manca negara). Setiap tahun jumlah pelajar dan wisatawan yang datang/berkunjung ke Jogja terus bertambah. Jogja hanya kalah dari Bali kalau soal kunjungan wisata.

Sebagai orang pendatang yang sudah menganggap Jogja sebagai kampung halaman sendiri, Aku ingin Jogja tidak hanya ramah terhadap pendatang tapi juga ramah pada lingkungan. Kalau Jogja bisa menadapat predikat sebagai kota ramah lingkungan, maka Jogja akan semakin istimewa. Istimewa tidak hanya di Indonesia tapi juga akan istimewa di mata dunia, karena saat ini pembangunan yang berkonsep ramah lingkungan (go green) sedang menjadi sorotan dunia sebagai tanggapan dari makin rusaknya lingkungan yang menyebabkan pemanasan global (global warming).

Seperti halnya kota-kota lain, kota Jogja terus melakukan pembangunan yang mengakibatkan semakin berkurangnya lahan hijau. Jalan-jalan kini semakin sesak dengan kendaraan bermotor yang mengakibatkan semakin tingginya volusi udara. Kalau hal ini dibiarkan terus tanpa ada peraturan daerah dan rancangan tata kota (site plan) yang baik (pro lingkungan), maka ke depan kota Jogja bisa menjadi kota yang tidak akan nyaman lagi untuk ditinggali. Dan itu bisa mengurangi keistimewaan Jogjakarta.

Agar Jogja mendapat predikat kota ramah lingkungan, apa yang harus dilakukan?

Aku Ingin Jogja Punya Transportasi umum Yang Nyaman, Aman dan Murah.

Untuk mengurangi jumlah penggunaan kendaraan bermotor pribadi, Jogjakarta harus memiliki sistem transportasi umum yang baik, aman, nyaman dan murah. Saat ini Jogja memang sudah memiliki Trans Jogja, tapi belum maksimal mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi, karena jumlah armada-nya masih sedikit. Jadi belum menjangkau seluruh sudut-sudut jalan di kota Jogjakarta.

Bus Trans Jogja
Bus Trans Jogja (Sumber: viva.co.id)

"Agar lingkungan tak tercemar maka perlu transportasi yang ramah lingkungan serta menjadi prioritas," ujar Sultan. - Sumber: http://us.nasional.news.viva.co.id/news/read/310722-wamenhub--transportasi-yogya-paling-humanis

Aku ingin Jogja Punya Taman Kota

Saat ini lahan kosong untuk lahan hijau di kota Jogjakarta semakin berkurang seiring pesatnya pembangunan yang terjadi di kota Jogja. Nggak ada yang salah dengan pembangunan, yang penting pembangunan itu tetap bersinergi dengan lingkungan (pembangunan berbasis go green) dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.

Aku ingin jogja punya taman kota
Salah satu taman kecil sudut jalan kota baru jogja. Sayang luasnya
sangat kecil. (Sumber: kotajogja.com)

Kembali ke masalah lahan hijau yang semakin berkurang di kota Jogja. Efek negatifnya tentu saja udara sejuk Jogja akan semakin berkurang (saat ini sudah mulai terasa). Karena itu, Aku ingin Jogja memiliki taman kota seperti Taman Suropati di Jakarta, yang berfungsi sebagai paru-paru kota, sekaligus sebagai ruang publik untuk interaksi sosial masyarakat Jogja.

Aku ingin Jogja Jadi Kota Sepeda

Jogja adalah kota kecil, kemana-mana dekat. Aku ingin orang-orang di kota Jogja lebih banyak menggunakan sepeda biasa daripada sepeda motor. Aku perhatikan, orang-orang sekarang terlalu dimanjakan dengan kendaraan bermotor. Kewarung saja yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah, sudah pake motor motor, bahkan mobil. Padahal kalau jalan kaki atau pake sepeda biasa akan lebih hemat karena tidak menggunakan BBM. Dan yang pasti lebih ramah lingkungan karena tidak menyebabkan volusi udara dari hasil pembakaran mesin motor.

Aku ingin Jogja jadi kota sepeda
VIVAnews Funbike Yogya (Sumber: VIVAlife)

Aku ingin orang-orang di Jogja lebih mengutamakan dan membudayakan penggunaan sepeda seperti di belanda yang terkenal dengan kota sepeda. Selain tidak menimbulkan volusi udara, juga bikin sehat. Kebiasaan bersepeda ini sudah mulai dibudayakan di lingkungan kampus UGM.


Aku ingin budaya bersepeda ini tidak hanya diterapkan di lingkungan kampus saja, tapi juga di luar kampus. Agar upaya untuk mengurangi volusi udara di Jogja, benar-benar efektif.

Akun Ingin Jalan Malioboro Bebas Kendaraan Bermotor

Jalan Malioboro adalah salah satu landmark kota Jogjakarta yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke Jogja, karena merupakan pusat wisata belanja di Jogja. Sebab itu Malioboro tidak pernah sepi dari pengunjung. Apalagi dihari libur, rame banget! Bikin macet, volusi udara, dan pejalan kaki harus rela berdesak-desakan di emperan toko karena trotoar yang semestinya untuk pejalan kaki, sudah beralih fungsi menjadi lahan parkir sepeda motor.

Aku Ingin Jalan Malioboro Jogja Bebas Kendaraan Bermotor
Kepadatan Lalulintas di Jalan Malioboro Jogja (Sumber: tribunnews.com)

Untuk menjaga kenyamanan dan keamanan pengunjung serta mengurangi volusi udara akibat asap kendaraan bermotor, aku ingin Jalan malioboro menjadi kawasan pedestrian (pejalan kaki). Kendaran bermotor tidak boleh masuk. Yang boleh hanya kendaraan tak bermotor seperti sepeda, becak dan andong. Dengan begitu, para pengunjung akan lebih leluasa dan nyaman berbelanja sambil menikmati suasana kawasan malioboro yang sangat kental dengan budaya jawa dan sejarah.

-------------------------

Untuk menjadikan Jogja kota yang benar-benar ramah lingkungan, memang tidak cukup hanya dengan 4 hal yang saya sebutkan di atas. Sebisa mungkin semua elemen kota harus bersahabat dengan alam. Seperti lampu penerangan jalan dan lampu merah (traffic light) yang menggunakan sumber tenaga matahari, perkerasan jalan yang punya pori-pori agar air hujan tetap meresap ke dalam tanah, dan lain sebagainya. Untuk mewujudkan itu semua, dibutuhkan peran dan kerjasama dari semua pihak terkait yang ada di Jogja, baik itu pemerintah, pengusaha, sekolah/kampus dan masyarakat jogja itu sendiri.

Kalau Jogja bisa melaksanakan pembangunan yang berbasis ramah lingkungan, saya yakin Jogja akan semakin ISTIMEWA, tidak hanya di Indonesia tapi juga di mata dunia.

Semoga harapan saya ini bisa terwujud. Amin...



KOMENTAR