Rumah Mereka di Hutan, Bukan Kebun Binatang!

Beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi situs Greenpeace Indonesia. Maksud hati ingin mengupdate informasi tentang produsen elektronik ter-green tahun ini, dan menjadikannya sebagai bahan postingan. Soalnya awal tahun 2011 saya pernah menulis tentang itu pada postingan berjudul: Ramah Lingkungan Tak Cuma Hemat Listrik.


Namun justru ide tulisan lain muncul ketika melihat photo induk orang hutan yang sedang menggendong anaknya dengan tulisan besar “Mereka Memerlukan Dukungan Anda”. Ekspresi mukanya nampak sedih. Mengingatkan saya dengan photo saya dengan hewan yang  memiliki kekerabatan paling dekat dengan manusia ini (kesamaan DNA sebesar 96.4%).

Orang Utan Kebung Binatang Gembira Loka Yogyakarta
Foto bareng Orang Utan di Kebung Binatang Gembira Loka Yogyakarta (Juli, 2012)

Perhatikan ekspresi muka orang utan dalam foto di atas. Kelihatan sedih, khan? Kalau bisa ngomong, mungkin dia akan berkata "Tolong bebaskan saya. Kembalikan saya ke rumah saya di hutan kalimantan/sumatra".

Tapi kalau dipulangkan ke hutan, apa mereka akan aman dan bahagia hidup di rumah mereka sendiri? Karena menurut laporan greenpeace, rumah mereka (hutan) sudah semakin menyempit. Tergusur oleh pemalakan liar dan ekspansi kebun kelapa sawit.

Yang lebih miris lagi, orang utan sudah dianggap hama oleh para pengelola kebun kelapa sawit. Mereka diburu dan dibunuh agar tidak mengganggu dan merusak pohon sawit. Sungguh ironis, karena yang sebenarnya pengganggu dan perusak itu adalah pemilik kebun kelapa sawit.

Setali tiga uang, nasib orang utan tak jauh berbeda dengan harimau sumatra. Dalam laporan Greenpeace Indonesia, berjudul: “Bagaimana deforestasi dari perkebunan kelapa sawit mendorong harimau Sumatera menuju kepunahan”, saat ini jumlah harimau sumatra diperkirakan hanya tinggal 400 ekor saja yang hidup di habitat aslinya.

Harimau Sumatra liar di Hutan
Harimau Sumatra di habitat aslinya (Foto: Greenpeace)

Apakah kita juga akan kehilangan orang utan dan harimau sumatra seperti harimau jawa yang sudah lama punah? Tentu tidak, khan?! Rumah mereka di HUTAN, bukan Kebun Binatang.

Protect Paradise!


Hutan Indonesia adalah hutan terbesar ketiga setelah hutan Brazil dan Kongo. Namun selama 12 tahun terakhir, laju kerusakan hutan Indonesia diperkirakan sekitar 8.4% per tahun. Penyebabnya antara lain: pemalakan liar, kebakaran hutan (baik yang disengaja maupun tidak), dan yang paling besar menyumbang laju deforestasi adalah kebun kelapa sawit.

Lahan kebun kelapa sawit
Deforestasi untuk kebun kelapa sawit (Foto: Greenpeace)

Hutan tidak hanya sekedar tempat hidup berbagai macam hewan dan tumbuhan, tapi lebih dari itu. Hutan merupakan paru-paru dunia penghasil oksigen dan pengatur siklus hidrologi. Jadi kalau hutan hilang atau rusak, maka yang punah tidak hanya hewan dan tumbuhan saja, tapi juga manusia. Coba bayangkan, jika paru-paru Anda rusak, apa yang Anda rasakan? Pasti sulit bernafas, bukan?! Nah, itulah yang akan kita alami kalau hutan rusak. Apalagi kalau sampai hilang. Itu kiamat benar-benar sudah dekat.

Hutan Indonesia, Paru-paru dunia
Hutan sebagai paru-paru dunia dan pengatur siklus hidrologi (Foto: Greenpeace)

Sekarang saja banyak orang yang sulit mendapatkan air bersih, sehingga harus membelinya. Ini salah satu bukti dari penggundulan hutan, yang merupakan penyimpanan atau penampungan air. Bisa jadi kelak oksigen juga akan diperjual-belikan jika kita tidak segera bertindak mencegah kerusakan hutan yang lebih parah lagi.

Hutan adalah surga dunia. Penopang segala makluk hidup di bumi. Karena itu kita semua bertanggung jawab untuk melindunginya. Jauhkan dari ancaman kerusakan. Protect paradise! Caranya bagaimana?

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk ikut andil dalam usaha perlindungan hutan. Mengutip kata-kata mba Lutfi Retno Wahyudyanto di artikel blognya yang berjudul: Dongeng Tentang Hutan Indonesia, "Saat suatu isu dibicarakan banyak orang, para pengambil kebijakan akan lebih berhati-hati untuk memutuskan sesuatu. Karena mereka merasa diawasi". Karena itu, bagi teman-teman blogger, menulis informasi seputar hutan di blog masing-masing adalah salah satu cara kreatif ambil bagian dalam upaya perlindungan hutan.

Cara lain yang bisa kita lakukan adalah dengan tidak menggunakan produk-produk yang bahan bakunya berasal dari hasil perusakan hutan. Contohnya produk-produk yang menggunakan bahan kelapa sawit seperti kosmetik, makanan, sabun, shampo, dan lain sebagainya. Cari tahu mana produsen yang membeli minyak kelapa sawit dari perusahaan yang melakukan perusakan hutan. Jangan pakai produk-produk produk-produknya. Dengan begitu, diharapkan si produsen sadar dan berusaha untuk lebih ramah terhadap bumi. Tidak semata-mata mementingkan keuntungan.

Sekali lagi, banyak cara yang bisa kita untuk ikut ambil bagian dalam upaya penyelamatan lingkungan, khususnya hutan. Ayo, tunjukkan Aksi Kamu!


Kalau bukan kita, siapa lagi? Dan kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Yuk, PROTECT PARADISE!





KOMENTAR